Masih ingatkah dengan sebuah cerita lama tentang ayah, anak dan seekor keledai? Yup, cerita yang sudah masyhur dan sarat dengan makna. Cerita singkatnya adalah ketika ayah dan anak tersebut melakukan perjalanan, kemudian si anak naik keledai dan sang ayah berjalan sambil menuntun keledai yang ditumpangi anaknya. Dalam perjalanan orang-orang di sepanjang jalan sibuk membicarkan mereka, bahkan ada yang langsung mengkritiknya. “Sungguh anda ini anak yang tidak tau tatakrma, masa anak naik keledai sementara ayahnya yang sudah tua jalan kaki”. Setelah mendengar kritikan orang-orang si anakpun langsung turun dari keledai dan mempersilakan ayahnya untuk naik keledai sementara ia jalan kaki sambil menuntun keledai yang dinaiki ayahnya. Perjalanan dilanjutkan, di tengah perjalanan orang-orang lagi-lagi membicarakan ayah dan anak ini. “Dasar orang tua tidak berperasaan, masa anaknya yang masih kecil disuruh jalan kaki sambil menuntun keledai sementara ayahnya malah menunggang keledai”, demikian pembicaraan orang-orang. Lalu karena merasa tidak enak dengan pembicaraan orang-orang sang ayahpun turun dari keledai dan jalan kaki bersama anaknya sambil menuntun keledai.

Sekarang ia beranggapan pasti tidak akan dibicarakan orang-orang lagi karena sudah sama-sama dengan anaknya berjalan kaki. Namun ternyata tidak demikian, dalam perjalanan orang-orang masih membicarakannya. “Sungguh ayah dan anak yang aneh ya, sudah ada keledai kok malah jalan kaki, mengapa tidak dinaiki keledainya ya”, celetukan orang-orang  sepanjang jalan. Mendengar perkataan orang-orang tersebut membuat si ayah dan anak menghentikan perjalanannya dan mengambil keputusan akhir dengan anggapan orang-orang pasti tidak akan membicarakannya lagi. Keputusan akhir itu adalah mereka berdua yaitu ayah dan anaknya naik keledai berdua. Mereka melanjutkan perjalanan dengan anggapan pasti orang-orang tidak akan mengomentarinya lagi karena kini sudah berbeda dengan sebelumnya. Namun ternyata perkiraan mereka meleset, ternyata orang-orang masih membicarakannya bahkan lebih mengejutkan lagi pembicaraan mereka atas keputusannya itu. “Dasar gila ya mereka, gak punya perasaan masa keledai kecil itu dinaiki berdua”, kata orang-orang sepanjang jalan.

Dari kisah di atas kita dapat mengambil pelajaran, betapa luasnya persepsi dan tidak bisa diseragamkan antara persepsi kita dengan persepsi orang lain atas satu masalah atau peristiwa. Maka berbijaksanalah kita dalam melihat, memahami dan menyimpulkan atas suatu masalah yang terjadi menghampiri kita. Kita akan berpersepsi sesuai dengan kacamata pemahaman yang kita miliki, jadi perluaslah pemahaman keilmuan kita agar memiliki kacamata persepsi yang lebih luas dan bijak. Sekian dulu ya….

Advertisements